BERITA ETAM, JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar penganugerahan Kalpataru kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Salah satu yang menerima penghargaan kalpataru adalah Yayasan Ulin yang terletak di Kutai Timur. Yakni, Yayasan Ulin mendapatkan penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan.
Menteri LHK, Siti Nurbaya memberikan langsung penghargaan Kalpataru secara langsung kepada tokoh terpilih di Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (5/6/2023). Usai memberikan penghargaan, Menteri Siti menyampaikan bahwa keberadaan Penghargaan Kalpataru sangat penting.
Hal tersebut mengingat secara prinsip bahwa pendekatan penanganan, perlindungan dan pengelolaan lingkungan harus dilakukan dengan pendekatan Konstitusionalitas dan Prosedural, sebagai refleksi kaitan antara demokrasi dan lingkungan, yakni demokrasi dan rasa untuk menjaga lingkungan, dimana ada kaitan filosofis, pelembagaan yang mendorong praktek atau rintisan untuk membangun nilai-nilai yang menghargai lingkungan, serta menerapkan secara mendasar prinsip kelestarian lingkungan atau deep-green pada penempatan dalam berbagai kebijakan).
“Aktualisasinya dalam bentuk dan orientasi partisipasi yang lebih dan semakin luas atau wider participation, adopsi kebijakan-kebijakan yang berorientasi hijau serta jelasnya kaitan antara partisipasi dan hasil atau keluaran yang makin kental dimensi kelestariannya atau greener outcome,” ungkap Menteri Siti (Dikutip dari website PPID MenLHK).
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur Armin Nazar, yang ditemui usai acara penghargaan tersebut mengatakan, ini adalah pertama kalinya Yayasan Ulin meraih penghargaan Kalpataru. Namun untuk penghargaan Kalpataru dari MenLHK adalah yang kedua kalinya bagi Kabupaten Kutai Timur.
“Sebelumnya Kutai Timur juga meraih penghargaan Kalpataru terkait dengan Hutan adat Wehea,” ungkap Armin Nazar.
Lebih lanjut Armin menjelaskan penghargaan ini diberikan KLHK kepada Yayasan Ulin, dikarenakan sejak berdiri di tahun 2009 sangat peduli kepada lingkungan hidup. Terutama memastikan semua spesies yang muncul secara alami dan kehidupan berkualitas bagi manusia yang tinggal di dalam bentang alam Indonesia yang terletak di luar kawasan lindung melalui konservasi berbasis ilmu pengetahuan dan pemanfaatan berkelanjutan.
“Termasuk Buaya Badas Hitam yang terletak di perairan Mesangat, Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur,” jelas Armin.
Untuk diketahui, Buaya Badas Hitam merupakan salah satu spesies dalam IUCN daftar merah berstatus Critically endangered dan habitatnya didunia tersisa di kutai timur
“Yayasan Ulin sangat care (peduli) dengan buaya badas hitam sehingga mereka melakukan penyelamatan melalui sosialisasi, sehingga buaya tersebut hingga saat ini masih bertahan hidup di Muara Ancalong. Dengan demikian atas nama Dinas Lingkungan Hidup, kami mengucapkan terima kasih,” tutur Armin.
Ketua Yayasan Ulin Suimah menambahkan, sosialisasi yang dilakukan adalah bicara dari orang ke orang, ke sekolah termasuk ke guru. Tak hanya sosialisasi, Yayasan Ulin juga mengajak mahasiswa untuk magang. Dan terakhir melibatkan masyarakat untuk menjadi bagian dari pecinta lingkungan hidup.
Suimah pun berharap tidak hanya yayasan Ulin yang melakukan penyelamatan tetapi Komunitas yang ada disekeliling lahan basah mesangat juga terlibat secara aktif dan tidak menutup kemungkinan munculnya tokoh atau kelompok lainnya yang mengangkat isu penyelamatan lingkungan sehingga lingkungan hidup akan semakin lestari. (*/etm2)