SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terus memperkuat intervensi harga kebutuhan pokok bagi masyarakat. Pada pertengahan tahun 2026 mendatang, program Pasar Murah kembali digelar dengan pola distribusi langsung dari distributor ke sejumlah kecamatan.
Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani, menjelaskan bahwa langkah tersebut menjadi salah satu instrumen pengendalian inflasi sekaligus upaya menjaga keterjangkauan harga pangan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Pasar murah ini dirancang agar komoditas pokok dapat diterima masyarakat dengan harga yang lebih stabil dan terjangkau. Ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah daerah dalam menekan gejolak harga,” kata Nora saat ditemui di ruang kerjanya, Bukit Pelangi, Sangatta Utara, Rabu (07/01/2026).
Ia mengungkapkan, meski terjadi penyesuaian anggaran yang cukup besar, program tetap dijalankan secara terukur dengan pemilihan tujuh kecamatan prioritas yang dinilai strategis dan mudah dijangkau dari sisi distribusi.
“Dengan efisiensi anggaran hingga sekitar 60 persen, kami memusatkan pasar murah pada wilayah yang memiliki jangkauan logistik terbaik agar manfaatnya tetap optimal bagi masyarakat,” jelasnya.
Nora menambahkan, skema pasar murah tahun ini akan lebih efektif karena memotong rantai distribusi yang biasanya memengaruhi kenaikan harga. Bahan kebutuhan seperti beras, minyak goreng, dan gula pasir akan dipasok langsung dari distributor utama.
Menurutnya, strategi ini memungkinkan harga yang ditawarkan jauh lebih rendah dibandingkan harga di pasar tradisional maupun gerai ritel modern.
“Kami membawa barang langsung dari distributor ke lokasi kegiatan tanpa tambahan biaya transportasi kepada konsumen. Dengan begitu, harga yang diterima warga benar-benar mendekati harga dasar distributor,” tegasnya.
Disperindag Kutim berharap, melalui program ini masyarakat tidak hanya memperoleh akses bahan pokok dengan harga lebih murah, tetapi juga merasakan stabilitas pasokan menjelang periode pertengahan tahun yang biasanya rawan tekanan harga. (ML)













