SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) membuktikan bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu harus bergantung pada pembangunan infrastruktur besar. Melalui program Sekolah Lansia Berdaya (Sidaya) yang akan diluncurkan pada Februari 2026, DPPKB mengusung konsep efisiensi dengan memanfaatkan aset publik yang sudah tersedia di tengah masyarakat.
Kepala DPPKB Kutai Timur, Ahmad Junaidi, menegaskan bahwa pihaknya tidak mengalokasikan anggaran untuk pembangunan gedung sekolah baru. Strategi yang dijalankan adalah optimalisasi fasilitas yang ada di tingkat desa dan kelurahan melalui kerja sama lintas sektoral yang erat.
“Kita tidak perlu membangun gedung baru untuk sekolah lansia. Strateginya adalah kolaborasi. Kelas bisa dilaksanakan di balai desa, aula kelurahan, masjid, hingga gereja. Prinsipnya, di mana ada tempat berkumpul yang representatif bagi warga senior kita, di situlah pembelajaran bisa dilakukan,” jelas Junaidi saat memberikan keterangan di ruang kerjanya, Kamis (15/1).
Menurut Junaidi, langkah ini diambil agar anggaran pemerintah dapat dialokasikan lebih maksimal pada kualitas program dan pelayanan langsung kepada para lansia. Fokus utama bukan pada fisiknya, melainkan pada kehadiran tenaga ahli dan pemenuhan kebutuhan edukasi peserta didik yang berusia di atas 60 tahun tersebut.
Program ini menjadi potret sinergi antar-instansi yang masif. DPPKB menggerakkan Petugas Lapangan KB (PLKB) dan Kader Bina Keluarga Lansia (BKL) sebagai ujung tombak. Sementara itu, Dinas Pendidikan dilibatkan untuk mengirimkan pamong dan tutor melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Tidak ketinggalan, Dinas Kesehatan turut serta menerjunkan dokter spesialis hingga kader posyandu untuk memberikan layanan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Semua layanan dalam sekolah lansia ini bersifat gratis atau tanpa dipungut biaya. Dokter spesialis yang kita datangkan sebagai fasilitator pun bekerja dalam kerangka kolaborasi. Kami ingin menunjukkan bahwa dengan semangat gotong royong antar-SKPD, kita bisa memberikan layanan kesehatan, keterampilan, dan pendidikan spiritual yang berkualitas bagi orang tua kita di Kutai Timur,” pungkasnya.
Sebagai tahap awal, Sangatta Utara akan menjadi pilot project dengan pembentukan empat sekolah lansia di tiap desa/kelurahan, sebelum nantinya direplikasi ke seluruh kecamatan di Kabupaten Kutai Timur pada tahun 2027 mendatang. (IR)













