Berita  

Bupati Ardiansyah Launching Aplikasi DIGIDES di Desa Benua Ilir Kecamatan Sangkulirang

banner 1024x768

Foto : Istimewa

BERITA ETAM, SANGKULIRANG – Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman melaunching Persuratan Desa secara online/ofline menggunakan Aplikasi Digital Desa (DIGIDES), di Aulau Kantor Desa Benua Baru Ilir, Kecamatan Sangkulirang, Senin (1/8/2022).

Peluncuran aplikasi itu ditandai dengan simulasi pengisian surat menyurat pada anjungan digital desa. Hanya membutuhkan lima menit saja, surat bisa langsung dicetak. Kemudian prosesi dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng.

Dikatakan Arddiansyah, program Digital Desa Benua Baru Ilir ini akan menjadi “pilot project” bagi seluruh desa di Kutim. Sejalan dengan program smartcity dan merdeka sinyal yang telah digagas Pemkab Kutim beberapa waktu lalu.
“Berbagai terobosan sudah pernah coba diterapkan Pemkab Kutim agar birokrasi pelayanan bagi masyarakat bisa lebih mudah dan cepat. Diantara pembentukan kantor pelayanan terpadu satu pintu (PTSP). Kemudian saat ini terus dimatangkan konsep smart city dan juga merdeka sinyal,” terangnya.

Ardiansyah berharap aplikasi ini disosialisasikan secara masif. Agar masyarakat lebih memahami bagaimana cara menggunakannya. Lebih lanjut Bupati menjelaskan bahwa tantangan terbesar dari program ini adalah daya dukung infrastruktur yang memadai.

“Penguatan jaringan internet diberbagai wilayah terutama di kawasan yang ‘blankspot’ perlu dipetakan dengan baik. Sehingga semua bisa terjangkau,” ujarnya.

Selanjutnya Pemkab Kutim akan terus mematangkan program ini, berkoordinasi dengan beberapa lembaga. Diantara Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta Kementerian Kominfo.
Sementara itu, Kepala Desa Benua Baru Ilir Basri mengatakan, program ini sudah digagas sejak akhir 2020 lalu. Namun baru bisa terlaksana saat ini.

Lebih lanjut dikatakan Basri, dalam program ini, Desa Benua Baru Ilir bekerja sama dengan pihak swasta. Mulai dari perencanaan, pengelolaan, pelatihan sampai pemeliharaan yang menelan biaya Rp 70 juta rupiah.

“Kami sudah melakukan uji coba selama tiga bulan dan berjalan baik. Dengan menggunakan ‘smartphone’, ada beberapa fitur yang bisa digunakan masyarakat. Pertama surat menyurat, berita desa, potensi desa, info grafis kependudukan elektronik pasar desa. Lewat program ini diharapkan pelayanan administrasi masyarakat lebih mudah, murah, tepat dan cepat,” jelasnya.

Dengan aplikasi digital desa ini, dokumentasi masyarakat dan desa bisa tersimpan dengan aman. Jika suatu waktu ada musibah dan dokumen masyarakat hilang atau rusak, data data tersebut bisa dengan mudah didapatkan kembali. (*/etm2/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.