SANGATTA — Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutai Timur bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait menggelar Rapat Koordinasi Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TPPPS) di Ruang Rapat Bappeda Kutim, Rabu (13/4/2025).
Rapat tersebut membahas strategi percepatan penanganan stunting sekaligus evaluasi capaian prevalensi stunting di Kabupaten Kutai Timur.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kutim, Mitha Ferdina, mengatakan rapat koordinasi menjadi langkah penting untuk menyatukan program lintas sektor dalam mendukung target penurunan stunting daerah.
“Kutai Timur harus mampu mencapai target yang telah ditetapkan dalam RPJMD. Karena itu diperlukan sinergi seluruh OPD dan dukungan masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat, prevalensi stunting di Kutai Timur pada tahun 2024 berada di angka 26,9 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun secara bertahap hingga mencapai 19,38 persen pada tahun 2029.
Sementara itu, data berdasarkan E-PPGBM menunjukkan angka stunting sebesar 15,85 persen pada tahun 2025. Sedangkan berdasarkan SSGI-SKI berada di angka 26,9 persen pada tahun 2024.
Dalam penanganannya, pemerintah daerah terus memperkuat berbagai program kesehatan masyarakat seperti pemberian makanan tambahan, imunisasi, pemeriksaan ibu hamil dan balita serta edukasi gizi secara berkelanjutan.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah lanjutan seperti pendampingan pengisian data aksi konvergensi, Pra Musrenbang Tematik Stunting, skrining serentak pertumbuhan anak hingga kunjungan rumah bagi balita dengan masalah gizi.
Selain menyasar ibu dan balita, program penurunan stunting turut melibatkan kalangan remaja melalui Program Duta Remaja Aksi Bergizi guna mendorong pola hidup sehat sejak dini.
Melalui penguatan program kesehatan dan keterlibatan seluruh pihak, Pemkab Kutim optimistis percepatan penurunan stunting dapat berjalan maksimal demi menciptakan sumber daya manusia yang sehat dan unggul. (WR)













